Close

9 pokok pertanyaan yang baik diketahui oleh seluruh anggota Gereja Katolik untuk mempersiapkan sebuah perkawinan

Oleh:  Romo Aba MSC

 

Gereja memahami panggilan untuk menikah sebagai sebuah panggilan luhur untuk turut bersama Dia menciptakan dan merawat dan Gereja Katolik juga meyakini bahwa dibalik panggilan itu termuat tugas perutusan yang tidak ringan, pasangan yang menikah akan melahirkan generasi baru manusia dan kualitas generasi ini ditentukan oleh kualitas pasangan yang menikah itu.

Itulah mengapa Gereja Katolik sangat menaruh perhatian serius terhadap proses persiapan perkawinan, Yang jelas kedua pasangan harus dipastikan belum pernah menikah atau tidak sedang dalam sebuah ikatan pernikahan, hal selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah sebuah perkawinan Katolik itu wajib mengikuti masa persiapan atau disebut kursus persiapan perkawinan, di dalam kursus persiapan perkawinan Katolik ada tahapan yang wajib dilalui yaitu proses penyelidikan kanonik , hal-hal seputar persiapan itu bisa ditanyakan ke pastor paroki/paroki tempat dimana pasangan itu mendaftarkan diri untuk menikah.

Sejatinya sangat dianjurkan agar setiap warga Gereja Katolik mencari pasangan yang seiman atau sesama Katolik, tetapi jika keadaan tidak memungkinkan hal itu Gereja Katolik terbuka juga dengan perkawinan beda Gereja atau beda agama, jadi di dalam Gereja Katolik ada ijin dari bapak Uskup untuk seorang katolik menikah beda gereja atau beda agama, menikah beda Gereja artinya  dengan sesama Kristen tetapi yang non Katolik, beda agama artinya menikah dengan agama diluar kekristenan, pernikahan beda gereja atau beda agama harus mendapat ijink khusus dari bapak Uskup. Paroki ditempat pasangan mendaftar akan mengurus seluruh administrasi yang berhubungan dengan hal itu. Yang diperlukan pasangan adalah datang dan melapor diri kepada pastor paroki dan biarkan pastor paroki akan memberikan arahan proses apa yang akan dilalui untuk sebuah pernikahan, baik menikah dengan sesama Katolik, beda gereja (non Katolik) dan beda agama. Tempat yang resmi untuk pernikahan Katolik adalah Gereja Katolik kecuali ditempat tersebut belum ada bangunan Gereja Katolik sehingga bisa dilangsungkan di rumah atau tempat yang layak dan dipimpin oleh Imam atau diakon, tetapi untuk seorang Katolik yg ingin menikah dengan yang Non katolik (Kristen non Katolik)) dijinkan menikah di Gereja non katolik setelah mendapatkan dispensasi forma kanonika dari bapak Uskup dan bisa dipimpin oleh gembala atau  pendeta jemaat setempat tetapi seorang katolik hendak menikah dengan yang beda agama dia wajib menikah di dalam gereja katolik setelah mendapat ijin dari bapak Uskup.

 

Setiap warga Gereja Katolik itu memiliki kewajiban penuh untuk mengikuti seluruh prosedur dalam Gereja Katolik khususnya menyangkut perkawinan, jika ada seorang Katolik yang menikah diluar prosedur perkawinan Gereja Katolik misalnya tanpa persiapan perkawinan atau menikah di tempat ibadah lain maka sebenarnya dia mengingkari panggilan untuk menjadi orang Katolik yang sejati, konsukuensinya dari ini adalah dia terhalang untuk mengambil bagian penuh di dalam komunitas Gereja Katolik, konsukuensi yang paling jelas untuk itu adalah dia terhalang untuk meyambut komuni kudus, pertanyaannya sampai kapan dia  terhalang untuk menyambut komuni kudus?, sejauh perkawinan yang telah dia langsungkan tersebut tidak memiliki halangan-halangan yang mendasar maka seorang Katolik tersebut bisa menghadap kepada pastor paroki  untuk meminta status bebas  yaitu sebuah upaya untuk mengurus kembali perkawinan supaya dapat disahkan,  tetapi hal itu hanya terjadi jika sesudah diselidiki ternyata tidak ada halangan yang berarti atau halangan yang mendasar terhadap perkawinan yang telah dilangsungkan tersebut, contoh halangan itu adalah jika menikah dahulu dia tidak dalam keadaan terpaksa , tidak sedang disandera, tidak dalam sebuah paksaan atau pasangan yang dia nikahi tidak sedang dalam ikatan pernikahan yang lain.

Di dalam Gereja Katolik tidak kenal istilah perceraian atau pernikahan satu kali untuk selamanya atau untuk seumur hidup, gereja katolik sangat menghargai janji kesetiaan yang saling diucapkan oleh pasangan dihadapan imam atau diakon saat menikah. Tidak ada lembaga, instansi, keluarga atau pribadi manapun yang memiliki hak untuk menceraikan sebuah pernikahan Katolik. Dalam kasus-kasus khusus misalnya dalam sebuah perkawinan yang bermasalah Gereja memiliki sebuah lembaga yang bekerjasama dengan pastor paroki setempat Untuk mengurus dengan seksama dan teliti perkawinan-perkawinan yang bermasalah, Lembaga pengadilan gereja dapat menyatakan kebatalan terhadap sebuah perkawinan sesudah melalui proses penyelidikan mulai dari awal sampai kepada hari terakhir perkawinan tersebut diajukan untuk proses kebatalannya, apa itu kebatalan?, kebatalan adalah sebuah pernyataan dari Gereja bahwa sebuah perkawinan tersebut atau pekawinan yang sudah terjadi sebenarnya tidak boleh atau belum boleh untuk dilangsungkan.

Gereja katolik sampai hari ini menolak perkawinan sejenis sebab perkawinan itu bukan sekedar legalisasi untuk menyalurkan hawa nafsu sexual saja, Perkawinan atau keluarga menjadi sebuah wadah bagi terbentuknya individu, Seorang individu baru itu belajar menjadi manusia di dalam keluarga atau melalui lembaga perkawinan, dia belajar tentang keibuan, dia belajar tentang kebapaan , dia belajar tentang kepriaan, dia belajar tentang kewanitaan secara bersamaan dan hal tersebut tidak akan mungkin terjadi dalam sebuah keluarga dengan pasangan sejenis. Gereja menetapkan perkawinan Katolik hanya boleh dilangsungkan oleh satu pria dengan satu wanita, sebab dalam sebuah ikatan perkawinan tidak boleh ada cinta yang terbagi persembahan diri harus menjadi persembahan yang utuh satu bagi yang lain itulah mengapa tidak dikenal poligami atau poliandri di dalam perkawinan Katolik.

Demikian beberapa ulasan singkat menyangkut perkawinan katolik, semoga bermanfaat, Tuhan memberkati kita semua.

 

Sumber Youtube : https://www.youtube.com/watch?v=oie0jwD8xDI